Bab 24 Tantangan Perubahan Zaman di Era Modernisasi.
Bab 24 Tantangan Perubahan Zaman di Era Modernisasi.
Desa Tejakula, yang berdiri kokoh di pesisir utara Pulau Bali dengan segala keagungan sejarah dan kearifan lokalnya, kini sedang berada di titik persimpangan sejarah yang menentukan. Perubahan zaman yang bergerak sangat cepat, didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan arus globalisasi, telah membawa kita masuk ke dalam era modernisasi yang serba dinamis, serba canggih, dan serba terbuka. Dulu, kehidupan masyarakat berjalan tenang, teratur, dan terisolasi dengan nilai-nilai tradisi yang mengakar kuat, di mana aturan adat, norma agama, dan kebiasaan leluhur menjadi satu-satunya pegangan utama dalam setiap langkah kehidupan. Namun kini, benteng pembatas yang dulu memisahkan kita dari dunia luar seolah telah runtuh sepenuhnya. Informasi datang secepat kilat, budaya asing masuk tanpa henti, dan cara pandang hidup manusia berubah drastis mengikuti irama zaman yang semakin hari semakin cepat berdenyut. Di satu sisi, modernisasi membawa banyak kemudahan, kenyamanan, dan peluang besar untuk kemajuan serta kesejahteraan. Namun di sisi lain, gelombang besar perubahan ini juga membawa serta berbagai tantangan berat, ujian berat, dan ancaman nyata yang menguji ketahanan, identitas, dan kelestarian kehidupan budaya masyarakat Tejakula yang telah terjaga berabad-abad lamanya.
Salah satu tantangan terbesar dan paling nyata yang kita hadapi adalah pergeseran nilai dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Modernisasi membawa pola pikir yang lebih mengutamakan rasionalitas, efisiensi, dan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Nilai-nilai luhur yang dulu sangat dijunjung tinggi seperti rasa kebersamaan, gotong royong, kesederhanaan, sopan santun, dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, perlahan namun pasti mulai tergerus dan dianggap ketinggalan zaman. Semangat untuk saling membantu tanpa pamrih yang dulu menjadi ciri khas utama warga Tejakula, kini mulai berubah menjadi transaksi yang berorientasi materi dan imbalan. Di mata sebagian masyarakat, terutama generasi muda, kesuksesan dan kebahagiaan lebih banyak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa mewah gaya hidup yang dijalani, dan seberapa modern penampilan yang ditunjukkan, bukan lagi diukur dari seberapa luhur budi pekertinya atau seberapa kuat ketaatannya pada adat dan agama. Perubahan pola pikir ini mengakibatkan ikatan sosial antarwarga menjadi semakin renggang. Tetangga yang dulu seperti saudara sendiri, kini bisa menjadi asing karena kesibukan masing-masing. Norma-norma adat yang dulunya mutlak ditaati dan menjadi penentu benar salahnya sebuah perbuatan, kini mulai dipertanyakan, diabaikan, bahkan dianggap penghambat kebebasan dan kemajuan. Hal ini adalah ancaman serius, karena jika pondasi nilai dan moral ini runtuh, maka bangunan besar masyarakat Tejakula yang rukun dan damai pun akan ikut rapuh.
Masuknya budaya luar dan pengaruh asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa dan budaya lokal merupakan tantangan berikutnya yang sangat berat. Melalui kemajuan teknologi komunikasi, media sosial, internet, dan akses transportasi yang semakin mudah, kita seolah dibawa mengelilingi dunia dalam genggaman tangan. Kita bisa melihat, meniru, dan mengadopsi segala sesuatu yang ada di luar sana, baik yang baik maupun yang buruk. Masalah utamanya bukanlah pada kemajuan teknologinya, melainkan pada cara kita menyikapi dan menyaring apa yang masuk. Banyak di antara kita, terutama generasi muda yang masih dalam masa pencarian jati diri, dengan mudah menelan mentah-mentah segala bentuk budaya, gaya hidup, kebiasaan, dan pola pikir asing tersebut tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Ada kecenderungan menganggap bahwa segala sesuatu yang datang dari luar, yang baru, dan yang modern itu pasti lebih baik, lebih keren, dan lebih tinggi nilainya dibandingkan apa yang sudah kita miliki sejak dulu. Sementara itu, budaya sendiri, bahasa sendiri, seni sendiri, dan kebiasaan sendiri justru dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau kurang menarik. Akibatnya, cara berpakaian, cara berbicara, hingga perilaku sehari-hari banyak yang berubah menjauhi karakter asli Tejakula. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, dikhawatirkan suatu saat nanti kita akan kehilangan identitas diri kita sendiri. Kita akan menjadi masyarakat yang maju secara teknologi dan materi, namun kosong dari jiwa dan karakter, tidak lagi berbeda dengan daerah lain, hingga akhirnya lupa siapa jati diri aslinya dan dari mana asal usulnya.
Tantangan yang tak kalah berat adalah masalah kelestarian adat istiadat, seni, dan warisan budaya tak benda. Di era modern ini, waktu terasa semakin berharga dan serba kurang. Kehidupan ekonomi yang semakin sulit dan persaingan yang semakin ketat menuntut setiap orang untuk bekerja lebih keras, lebih lama, dan lebih fokus mencari nafkah. Akibatnya, waktu, tenaga, dan biaya yang dihabiskan untuk kegiatan adat, seni, dan tradisi menjadi semakin terbatas. Banyak kegiatan adat dan upacara yang dulunya dilaksanakan secara lengkap, khidmat, dan meriah dengan keterlibatan seluruh warga, kini mulai mengalami penyederhanaan, pengurangan detil, atau bahkan dikerjakan secara terburu-buru hanya karena keterbatasan waktu dan biaya. Rasa cinta dan ketertarikan generasi muda terhadap seni tradisional seperti seni ukir, seni tari, seni musik, dan sastra daerah juga semakin menurun. Mereka lebih tertarik mengejar keterampilan dan pengetahuan baru yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi, sementara keahlian seni warisan leluhur dianggap tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Padahal, kekuatan utama Tejakula ada pada keunikan budayanya. Ketika adat mulai ditinggalkan dan seni mulai mati, maka yang tersisa hanyalah sebuah wilayah geografis biasa yang tidak lagi memiliki keistimewaan atau daya tarik apa pun dibandingkan daerah lain. Pengetahuan-pengetahuan kuno, kisah sejarah, dan makna filosofi yang dulu diwariskan secara lisan, kini terancam hilang selamanya karena tidak ada lagi yang mau mempelajari, mendalami, dan meneruskannya ke generasi berikutnya.
Selain itu, modernisasi juga membawa dampak nyata terhadap lingkungan hidup dan kearifan lokal dalam mengelola alam. Leluhur kita dulu memiliki cara pandang hidup yang sangat bijak dan harmonis terhadap alam. Alam dianggap sebagai bagian dari diri sendiri, sebagai ibu yang memberi kehidupan, sehingga diperlakukan dengan sangat hormat, dijaga, dan tidak dieksploitasi berlebihan. Namun di era modern, alam sering kali dipandang hanya sebagai sumber daya materi yang harus diambil manfaatnya sebanyak-banyaknya demi kemajuan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin beragam. Cara bertani, berkebun, dan menangkap ikan yang dulu ramah lingkungan dan berkelanjutan, kini mulai ditinggalkan dan diganti dengan cara-cara yang lebih cepat dan hasil lebih banyak, namun sering kali merusak keseimbangan ekosistem. Pembangunan fisik yang terus dilakukan untuk memperindah desa dan menunjang pariwisata, jika tidak dikendalikan dengan perencanaan yang matang dan berlandaskan kearifan lokal, berisiko mengubah wajah asli desa, merusak keindahan alam, dan menghilangkan jejak-jejak arsitektur kuno yang menjadi ciri khas Tejakula. Kita berhadapan dengan tantangan besar: bagaimana caranya menjadi maju dan makmur, namun tidak merusak alam yang menjadi sumber kehidupan kita sendiri, dan tidak menghapus keindahan asli desa yang menjadi kebanggaan kita.
Tantangan terberat dari semua ini justru ada di tangan generasi muda. Di era modern ini, jurang pemisah antara orang tua dan anak muda terasa semakin lebar. Cara pandang, selera, dan nilai hidup antara dua generasi ini sering kali berbeda jauh. Para orang tua dan tetua adat yang memegang teguh tradisi, sering kali dianggap kaku, kolot, dan tidak mengerti zaman oleh anak-anak muda. Sebaliknya, langkah anak muda yang bebas dan dinamis sering kali dianggap melenceng dan melanggar aturan oleh orang tua. Ketidaksepahaman ini membuat proses pewarisan budaya menjadi sangat sulit. Generasi muda adalah penerus tongkat estafet ini, namun jika mereka tidak mencintai, tidak mengerti, dan tidak mau terlibat dalam budayanya sendiri, maka sudah pasti warisan ini akan berhenti sampai di tangan kita saja. Modernisasi menawarkan banyak godaan dan kenyamanan di luar sana, membuat banyak pemuda-pemudi Tejakula memilih merantau dan menetap di kota besar, meninggalkan desa, dan perlahan melupakan segala akar budayanya. Ini adalah tantangan eksistensial: bagaimana cara kita membuat anak muda tetap bangga, tetap mau pulang, dan tetap mau menjaga tanah kelahirannya ini di tengah gemerlapnya dunia luar yang mempesona.
Namun, di balik segala tantangan, ancaman, dan kesulitan yang ada, kita harus sadar bahwa modernisasi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita tolak atau kita hentikan. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, menutup diri, dan hidup terisolasi seolah dunia tidak berputar. Menolak perubahan sama artinya dengan mematikan kemajuan dan membiarkan diri tertinggal jauh oleh bangsa lain. Tantangan sesungguhnya bukanlah pada perubahannya itu sendiri, melainkan pada kemampuan kita untuk beradaptasi, menyaring, dan menempatkan diri dengan tepat. Tantangan kita adalah bagaimana kita bisa mengambil segala sisi positif dari kemajuan zaman ini — ilmu pengetahuan, teknologi, kemudahan hidup, dan peluang ekonomi — untuk memajukan dan menyejahterakan desa, namun di saat yang sama tetap mampu menolak sisi buruknya, dan lebih dari itu, tetap mampu memelihara, menjaga, dan menegakkan nilai-nilai luhur, adat istiadat, serta jati diri asli Tejakula yang agung ini.
Kita berdiri hari ini dengan prinsip bahwa kita boleh menjadi modern, boleh menjadi maju, dan boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi kita tidak boleh kehilangan jati diri. Kita harus mampu menjadikan budaya dan tradisi bukan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai kekuatan, sebagai pembeda, dan sebagai modal utama yang justru menjadikan kemajuan kita lebih berharga, lebih bermakna, dan lebih berkah dibandingkan kemajuan bangsa atau daerah lain. Di tengah derasnya arus peradaban ini, mari kita perkuat benteng kesadaran kita. Jadilah masyarakat yang cerdas dalam menerima perubahan, bijak dalam memilah pengaruh, dan teguh dalam memegang warisan. Biarlah Desa Tejakula melangkah maju menuju masa depan yang gemilang dan modern, namun tetap berjalan dengan gaya langkah leluhurnya sendiri, tetap berpakaikan adat budayanya sendiri, dan tetap berpegang teguh pada arah tujuan suci yang telah ditetapkan para pendahulu: maju berbudaya, modern beridentitas, dan agung selamanya.
Komentar
Posting Komentar